Sabtu, 17 Februari 2018

Contoh Cerpen Singkat Persahabatan Eps2

Contoh Cerpen Singkat Persahabatan Eps2

Persahabatan yang Bermula dari Mangsa
Seorang murit sedang berada di tengah lapangan sedang dikerumuni beberapa siswa yang lainya. Sungguh tidak tega melihat pemandangan tersebut. Murit tersebut sedang dilempari buah kersen.
Dia tidak berdaya, dia hanya bisa diam saja tanpa melawan. Saat itu waktu sore dan semua siswa dan guru sudah pulang. Tidak ada siapa-siapa lagi disana, kecuali tiga siswa yang mengerumuni seorang murit tersebut, dan aku.
Aku sendiri hanya bisa menontonnya, mereka bertiga dan aku hanya sendirian. Ditambah lagi tiga anak nakal tersebut adalah teman sekelasku. Bisa jadi bola sepak aku kalau berani sama mereka.
Anak tersebut adalah siswa junior. Dia baru masuk tahun ini, sedangkan kami sudah dari dua tahun yang lalu.
Dia memakai kacamata tebal, dengan baju putih dan celana biru, dengan bentuk rambut yang disisir lurus ke kiri, membawa tas yang dari tadi dipegangi dengan kedua tangannya sambil berjongkok.
Anak-anak nakal itu memang senang mem-bully siswa baru. Kebetulan sekolah kami dikelilingi banyak pohon kersen. Jadi cukup untuk menyiksa siswa disekolah.
Baju putih yang dikenakannya membekas warna merah kekuningan karena buah tersebut. Banyak dari buah kersen menempel di baju, rambur serta tas milikinya.
Aku kasian melihatnya. Tapi apa boleh buat, tidak ada yang berani melawan mereka. Siapa yang menantang salah satu dari mereka, siapa saja itu, akan habis dikeroyoknnya.
Aku tetap memandangi dari kejauhan, meskipun mereka tau asalkan aku tutup mulut tidak bilang ke siapa-siapa maka nasibku akan aman.
Setelah puas mereka pun pergi. Anak tersebut pun membersihkan bajunya yang kotor. Mengebas-ngebas rambutnya, mengepakkan baju dan celana, setelah itu dia berjalan pulang.
Setahuku, anak tersebut juga tidak memiliki teman, kecuali sedikit. Dia lebih sering dijumpai pada tempat-tempat belajar, seperti perpustakaan, kelas, dan labotarium. Meskipun tidak ada jam kelas, maupun guru pembimbing, dia tetap pergi ke sana, walau hanya sekedar membaca buku.
Jarang sekali kakak kelas seperti kami berbicara dengannya, bahkan temannya sendiri pun mungkin ada yang tidak mengenalnya. Dia telalu pendiam.
Sampai suatu hari, salah seorang dari tiga anak temanku yang pernah menyakitinya jatuh sakit. Aku yang masih lebih pantas dianggap temannya datang untuk menjenguk.
Tapi kejadian itu sangat singkat, aku tidak bisa begitu memperhatikannya. Ada seorang anak berkacamata datang menghampiri temanku yang sedang berbaring di rumah sakit.
Tidak salah lagi, ini adalah anak yang pernah di bully beberapa minggu yang lalu oleh temankku. Kenapa dia kesini? apa yang dia ingin lakukan, toh juga orang yang berbaring adalah seseorang yang pernah menyakitinya. Kenapa juga temanku mendapatkan simpati darinya.
Atau mungkin dia ingin berbuat jahat, dengan mengatainya ‘Kapok’ di depan mukanya. Dengan begitu dia pasti akan sangat puas, karena seorang yang berbaring tersebut sedangn lemah dan tak berdaya.
Tapi sepertinya hal itu tidak mungkin ia lakukan, apa dia berani? iya benar sih kalau saat ini dia sedang sakit dan tidak bisa berbuat apa-apa, tapi kalau dia sudah sembuh pasti temanku itu akan membalas perbuatanya.
Aku pandangi anak tersebut. Ada keranjang kecil yang dibawa olehnya. Sempat terlihat olehku beberapa buah seperti apel berada dalam keranjang tersebut. Lalu dia memberikannya sendiri tepat di depan temanku. Temanku melihatnya dan menerimanya dengan lemas.
Sangat ironis memang, kejahatan di balas dengan kebaikan.
Dua minggu setelah kejadian itu, temanku sudah aktif masuk sekolah kembali. Kami jalani kehidupan sekolah bagaimana semestinya. Sampai ada kejadian unik yang membuat takjub orang yang melihatnya.
Anak yang berkacamata itu tetap saja di bully oleh temanku yang lain. Tapi ketika itu ada seorang yang berani membelanya dan membubarkan orang-orang yang menghinanya.
Malahan, dia menantang semua siswa yang berani menghina anak berkacamata itu. Dengan terikan sedikit keras dia melindungi anak berkacamata tersebut.
Sejak saat itu tidak ada lagi siswa yang berani membully anak berkacamata tersebut. Dan di setiap harinya aku mendapati temanku dan anak berkacama itu sering pulang bersama, di kantin bersama, datang ke sekolahan pun kadang bersama.
Mereka sekarang menjadi sahabat yang baik. Temanku menjadi baik dan tidak nakal lagi, anak yang berkacamata itu manjadi tidak pendiam lagi. Sepertinya mereka cocok menjadi sahabat.
Begitulah jika seorang yang berbuat jahat kepada kita lalu kita malah membalasnya dengan kebaikan, hasilnya akan menjadi indah.
Contoh Cerpen Singkat Persahabatan Eps1

Contoh Cerpen Singkat Persahabatan Eps1

sahabat Baru
Aku adalah Andi anak yang baru pindah dari provinsi sebelah. Sekarang aku tinggal di kota Lamongan. Aku tidak menyangka ternyata kota Lamongan itu indah banget. Tempatnya yang asri, bukit yang menjulung, daerah yang masih hijau, aku senang berada di sini.
Di setiap harinya, aku bisa melihat lautan yang luas. Jarang sekali aku bisa main. Di tempat tinggalku dulu, aku bahkan hampir tidak pernah mainan air. Aku bisa mainan air sama keluargaku jika waktu liburan dan mampir di suatu wahana.
Kebetulan saat di sana, ada tetanggaku yang bernama Luqman. Dia juga seumuranku, masih duduk di bangku kelas 3 SD.
Karena aku akan menetap di kota ini, maka aku juga harus pindah sekolah. Nah kebetulan aku satu sekolahan sama Luqman, teman baruku.
Setiap hari aku berangkat sekolah bersama, pulang sekolah juga. Kami sering bermain di pesisir pantai. Kami hanya membutuhkan waktu beberapa menit untuk pergi di bibir pantai.
“Luqmaann ..” panggiku dari depan rumah temanku.
“Iya sebentar”
“ayok cepetan kita main”
“ayok .. ayok ..”
Hampir setiap hari libur kami menghabiskan waktu untuk bermain air. Tentunya sudah izin dengan orang tua kami masing-masing.
Terkadang juga kami menonton film kartun bersama.
Pernah juga saat kita asik bermain di pantai, ada anak dari teman kami sekelas datang kesana. Namanya Anton.
“Hai.. Antoonn” teriaku pada sedikit kejauhan
Dia pun menoleh, dan dia langsung menghampiri kami berdua.
“kalian sedang apa” kata Anton.
“kami sedang bermain air, sambil cari kerang ini” kata Luqman.
“eh bagaimana kalau kita lomba lempar batu aja ke sana. Siapa yang paling jauh maka itu pemenangnya.” Anton menjelaskan.
Kami pun saat itu ikut saran dari teman kami Anton, mengambil bebatuan karang yang cukup untuk dilemparkan sejauh yang kami bisa.
Pertama aku yang menang, terus disusul oleh Anton lalu Luqman. Permain itu sudah cukup menggembirakan buat kami. Menurut kami bahagia itu sederhana, tinggal kitanya saja dapat bersyukur atau tidak.
Kami mengulang-ngulangi permainan itu sampai kami puas. Kadang juga Anton duluan yang menang, kadang juga Luqman, kadang juga aku yang paling akhir.
Itulah persahabatan kami yang sungguh menyenangkan. Semoga kalian juga memiliki sahabat yang baik seperti teman-temanku.
Contoh Cerpen Cinta Romantis eps2

Contoh Cerpen Cinta Romantis eps2

Cinta yang Terpaksa Berahir
Langkah kaki perempuan itu menjauh membelakangi lelaki tersebut.
Dalam hujan malam hari itu, perempuan tersebut menerobos butiran air yang jatuh menerpanya. Dia tidak peduli dengan lelaki yang ada dibelakangnya.
“adinddaaaa …” teriak lelaki itu.
Tapi perempuan tersebut tetap saja berjalan semakin menjauh tanpa menengok sedikitpun.
“aadinnddaaaaa …” teriak lelaki itu sekali lagi.
Perempuan itu bertenti untuk beberapa detik, walau jarak yang sudah cukup jauh, tapi wanita itu masih mendengar suara teriakan nyaringnya.
Dalam tepi taman samping trotoar tersebut, hanya ada dua orang di sana. Lampu jalan remang kekuningan menghiasi sedihnya suasana malam itu. Jalanan sepi akan kendaraan yang melintas, benar-benar sepi.
Sejanak, wanita itu meneteskan air mata membasahi pipi yang bercampur air hujan. Berharap terhapus bersamaan air yang turun dari langit, agar tidak menyisakan kesedihan yang mendalam.
Terahir memandang lelaki tadi berdiri dengan wajah yang tidak percaya apa yang dikatakan perempuan tersebut. Padahal dia mengatakan yang sejujurnya. Berat memang rasanya, tapi dia tidak bisa menghindar.
dalam hati dia menggumam sendiri,
“maafkan kau sayang, tapi kita sudah tidak bisa bersama lagi. Aku ingin pergi jauh meninggalkanmu, lebih jauh dari yang kau kira. Aku takut kau akan kesepian saat sepeninggalanku. Terpaksa aku harus mengatakannya kepadamu, demi baktiku kepada orang tuaku. Aku harus lanjut sekolah. Mungkin kau dapat mencari yang lebih baik dariku, banyak wanita yang lebih baik dan lebih cantik dariku. Maafkan aku sayang, kau lelaki yang paling istimewa sepanjang hidupku.”
Lalu sekejap wanita itu mengusap air yang bercampur hujan di matanya dan pergi tanpa permisi dengan sedikit berlari. Meninggalkan lelaki yang masih diam terpaku tanpa senyuman.
Contoh Cerpen Cinta Romantis Eps1

Contoh Cerpen Cinta Romantis Eps1

Buku yang Mengandung Janji dan Cinta
Namaku Rosyad, biasa dipanggil  Roy. Aku kelas 3 SMA di kota Banten. Ini adalah kisahku yang teragis dan mungkin bisa dibilang sepele. Namun dari kejadian ini, membuatku susah untuk tidur dengan nyenyak.
Setiap harinya ketika aku melihat benda tersebut, aku selalu ingat dengan dengan kejadian itu. Sepele memang, sungguh benar-benar sepele tapi tak pernah bisa terlupakan.
Kejadiannya kurang lebih dua tahun yang lalu. Pada saat itu di kelas 1 SMA, di kelas yang paling utara, aku sedang bercanda dengan kawanku sebangku.
Temanku memang orangnya jahil, kadang bulpenku di pinjam diam-diam, kadang juga sampai di bawa pulang, kadang juga bukuku yang menjadi sasaran empuknya.
Tapi aku tak masalah, aku anggap semua hal itu hanyalah bercandaan belaka. Itu sudah menjadi kebiasaan sehari-hari kami yang hidup di gedung bersama, apalagi dia adalah teman satu bangku denganku.
Tapi karena bercandanya, sebuah kecelakaan,- emm mungkin lebih tepatnya kejadian yang tak terduga, itu bermula. Tidak ada niatan diantara kita untuk saling menjatuhkan atau merendahkan. Kami hanya ingin saling tertawa.
Saat itu, temanku usil dengan membawa buku tulisku. Dilemparnya ke atas lalu ditangkapnya. Dia hanya berharap aku marah padanya, tapi kebiasaanku aku sering tidak peduli padanya. Terlalu kekanak-kanakan menurutku.
Sampai ketika dia menjatuhkan buku tulisku ke lantai, dia telat menangkapnya. Lalu seketika itu aku marah, tapi aku tidak balas pada saat itu juga. Aku berjanji akan membalasnya pada sore hari nanti ketika dia tidak melihatnya.
Waktu sorepun tiba, sebentar lagi kita akan pulang, tapi disela waktu senggang itu, aku diam-diam mengambil buku yang ada di mejanya lalu langsung saja aku buang ke dalam tong sampah.
Aku pun puas dengan tindakanku, karena berhasil membalas dendam dari dia yang telah merusak buku kesayanganku. Aku ingin melihat kesedihan terlihat di wajahnya karena buku tulisnya yang berada di sampah.
Saat itu, dia menghampiriku hendak mengajak pulang. Aku pun tersenyum kecil bentuk kemenanganku. Tapi dia malah keheranan, kenapa aku tersenyum. Seketika itu dia kaget kerena mendapati bukunya yang ada di atas meja hilang begitu saja.
Dia menanyakan kepadaku dengan ekspresi wajah khawatir,
“kau kemanakan buku yang ada di atas mejaku?”
“mana aku tahu, cari aja sendiri” jawabku sambil tertawa sinis.
“astaga Roy, buku itu bukan milikku, itu bukunya Diana.”
Diana adalah wanita cantik serta anak paling pintar yang dikagumi satu kelas. Kebanyakan lelaki suka terhadapnya. Tapi jika kau tanya aku, mungkin lebih tepatnya aku tidak mengenalnya, atau mungkin tidak terlalu memperhatikan teman yang tidak terlalu akrab denganku. Apalagi bicara, bagiku itu mustahil.
Seketika itu aku berlari menuju tempat sampah tempat di mana aku membuang buku tersebut, karena khawatir dengan buku yang ternyata bukan milik temanku sendiri.
Ku dapati di depan tong sampah tersebut, ada wanita berdiri dengan membawa buku yang sedikit kotor. Buku itu persis dengan buku yang telah aku buang. Aku masih ragu awalnya, tapi terlihat dia menangis sambil memandangi buku tersebut membuatku yakin bahwa dia adalah pemilik buku itu.
Aku bingung dalam keadaanku seperti ini, apa yang harus aku perbuat. Meminta maaf dan bilang kalau itu adalah salah ku? itu tidak mungkin. Aku tidak biasa ngomong sama perempuan, aku bahkan tidak pernah.
Aku tidak bisa berkata apa-apa, tubuhku kaku tak bisa bergerak, mulutku bagai ada yang memborgol, dadaku sesak, jangtungku berdenyuk kencang saking ketakutannya. Apa yang harus ku perbuat Ya Tuhaann?
Aku merasa bersalah dan aku tidak mengucapkan maaf kepadanya, sungguh aku tak bisa. Aku sama sekali tak bisa bilang kepada wanita untuk meminta maaf. Bahkan aku tak pernah punya masalah dengan wanita.
Setelah ku pandangi beberapa menit, dia pergi dengan sedikit berlari menuju jalan kecil di antara rumah-rumah warga lalu menghilang.
Aku masih berdiri kaku. Rasa bersalah yang bercampur aduk ini sungguh tak karuan. Baru kali ini perasaan yang aneh seperti ini datang. Tak pernah sama sekali dalam hidupku aku memiliki perasaan yang seperti ini.
Apa yang harus aku lakukan? Apa aku harus menyalahkan temanku yang menjailiku? toh juga dia yang mulai, sehingga aku membalasnya yang ku kira itu adalah bukunya.
Apa aku harus pergi kerumahnya dan bilang kalau itu tadi adalah perbuatanku? Mustahil.
“sudahlah tak apa-apa, besok aku akan bantu bicarakan. Sekarang ayo kita pulang.” kata temanku berbisik pelan.
Aku masih tidak percaya dengan kajadian tadi. Tubuhku tetap saja membeku, tapi temanku memaksaku berjalan, dan tanpa sadar aku sudah di depan rumah. Aku masih memikirkan hal tadi.
Hari demi hari berlalu.
Sampai sekarang, aku belum juga meminta maaf kepadanya. Mungkin juga dia sudah lupa, toh juga itu kejadian dua tahun yang lalu. Tapi entah kenapa hati ini tak bisa melupakanya begitu saja. Masih ada rasa bersalah yang harus diungkapkan.
Aku pernah berjanji, sebelum lulus SMA, aku harus sudah meminta maaf darinya. Karena bila masih saja belum dapat maaf darinya, maka setiap aku melihat buku pasti akan muncul rasa bersalah itu kembali.
Hari menjelang ujian nasional semakin dekat. Aku mencari waktu yang tepat agar bisa meminta maaf kepadanya tanpa di ketahui anak-anak yang lain.
Aku sering mencarinya dan memperhatikannya. Nampaknya dia bahagia saja tanpa adanya maaf dariku. Kadang dia berada di kelas membaca buku, kadang dia bergurau dengan teman yang lain, sepertinya dia sudah benar-benar lupa dengan kejadian itu.
Pada hari selasa, sekitar jam 15.30 aku mendapati dia masih berada di kelas sendirian. Dia sedang asik dengan bukunya. Dia juga tak tau kalau aku memperhatikannya dari hari-hari kemarin.
Mungkin ini adalah waktu yang tepat untuk meminta maaf. Tapi kenapa rasa hati ini berdebar-debar, seperti ada rasa yang lain selain rasa bersalah.
Apakah ini cinta? Apakah aku salah memperhatikannya terus menerus? Aku hanya ingin mencari waktu yang pas agar bisa meminta maaf kepadanya, tapi karena itu juga aku kadang tersenyum-senyum sendiri ketika memandanginya.
Aku juga heran, kenapa bisa aku ikut bahagia ketika dia sedang asik bercanda dengan teman-temannya. Kenapa juga aku harus membuntutinya dan menghawatirkannya, toh juga dia sudah lupa.
Saat itu juga aku mengetuk pintu kelas dan berdehem kepadanya memberi tanda kalau aku disana.
Dia menengok dan melihatku lalu berkata.
“oh hai Roy, kau belum pulang?”
“Belum” jawabku polos.
“aku yang kau lakukan di sini, sepertinya teman-temanmu sudah pulang semua”
“iya aku tau, kau juga kenapa belum pulang?”
“aku ingin belajar lebih hari ini, ada beberapa bab yang aku masih belum menguasainya.”
“emm Diana, ada yang ingin aku omongkan denganmu, boleh aku meminta waktumu sebentar?” Kataku dengan cepat, tepat ketika dia mengakhiri kalimatnya.
“iya silakan”
Aku menceritakannya dengan ragu dan malu-malu. Aku juga bingung harus dimulai dari mana, kejadian itu sudah cukup lama, apa pentingnya kalau dia tau.
Tapi karena desakan hatiku yang terdalam, akhirnya aku langsung menceritakannya dari awal. Dia pun mendengarkan seluruh ceritaku. Lalu tiba-tiba dia mengatakan sesuatu yang aku tidak pernah menyangkanya.
“Ohh kejadian itu, aku mengingatnya. Aku tidak akan bisa melupakanya kalu kau yang telah membuang buku catatanku.”
Ketika kalimat itu terucap, aku merasa semakin bersalah.
“aku juga sebetulnya sudah tau dari awal kalau kau yang membuang buku milikiku. Karena ketika kau membuangnya, aku berada agak jauh di sampingmu dan kau tak melihatku. Aku juga heran kenapa setelah kau membuang buku tersebut kau malah tersenyum bahagia. Ku kira kau membenciku, sebab itulah aku menangis.”
“emm.. maafkan aku” kataku pelan.
“iya tak apa-apa” jawabnya.
Ada sedikit keganjalan menurutku darinya. Kenapa dia bisa menganggapku benci kepadanya padahal kita saat itu belum kenal akrab, bahkan bicarapun tidak pernah. Akhirnya aku beranikan untuk tanya kepadanya, dan dia menjawab.
“Kalau Roy tau, dari dulu aku mengagumi dirimu. Sikap cuekmu, gaya tertawamu dan semua yang ada pada dirimu.”
“ehh,, hehe.. apaan sih”
“Aku itu suka sama kamu Roy sejak kita pertama bertemu.”
Deg,.. Jantungku seketika itu berhenti.
Mungkin jika hal itu dibiarkan sedikit saja lebih lama, aku sudah tidak ada di dunia ini.
Tiba-tiba saja dia bilang hal semacam itu kepadaku. Dia tak tau perasaanku yang setiap hari dihantui olehnya karena rasa bersalah. Lalu dia tiba-tiba bilang suka?
Dalam hati terdalam antara rasa senang dan bahagia bercampur aduk dengan gerogi serta bingung. Aku tidak tau kenapa dia langsung bilang seperti itu.
Setelah beberapa lama, aku hanya menanggapinya dengan biasa. Aku masih bingung mau menjawab apa, lalu aku pamit pulang.
Disisi lain aku merasakan lebih percaya diri untuk mendekatinya melalui ponsel. Setiap hari kita SMS membahas semua hal, dari tugas yang diberi oleh guru, tanya jam berangkat sekolah, sampai mau lanjut kemana setelah selesai dari SMA ini.
Setiap malam ada perasaan bahagia karena selalu menantikan SMS darinya. Kadang juga aku yang memulai duluan, dan ternyata kita ingin memasuki kampus yang sama.
Lambat laut karena perasaan ini yang bergejolak, akhirnya aku mengungkapkan rasa cinta kepadanya. Kabar baiknya, dia menerimaku dengan senang hati, dan dari situlah kisah cinta kita bermula.